HSI - S1 - Fiqih Manasik Haji (Halaqah 3) - Pengertian, Ciri, Keutamaan Haji Mabrur Dan Cara Mendapatkannya

Rabu, 15 Januari 2020
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 1
Fiqih Manasik Haji (Halaqah 3)



Pengertian, Ciri, Keutamaan Haji Mabrur Dan Cara Mendapatkannya.

Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.


Tidak semua orang yang melakukan ibadah Haji mendapatkan haji yang mabrur. Haji yang mabrur adalah haji yang seseorang mendapatkan pahala yang besar di dalamnya. Dan ciri Haji yang mabrur, haji tersebut membawa perubahan pada dirinya kepada yang lebih baik.

Diantara keutamaan Haji yang mabrur :

1. Balasan Surga bagi orang yang mendapatkannya.
Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda:
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Dan Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga” (H.R. Al Bukhari dan Muslim)

2. Diampuni Dosa-dosa nya.
Di dalam sebuah hadits Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam mengatakan :
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa yang berhaji karena Allah kemudian dia tidak melakukan rofas dan tidak melakukan kefasikan maka dia akan kembali seperti ketika dia dilahirkan oleh Ibunya” (H.R. Al Bukhari dan Muslim)

3. Haji yang Mabrur adalah termasuk amalan yang paling afdol.
“Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam pernah ditanya tentang amalan apa yang paling afdol, beliau berkata beriman kepada Allah dan Rasulnya, beliau ditanya kemudian apa, beliau menjawab Jihad di jalan Allah, beliau ditanya kembali kemudian apa, beliau menjawab Haji yang mabrur” (H.R. Al Bukhari dan Muslim)


Cara untuk mendapatkan Haji yang Mabrur diantaranya :

1. Ikhlasyaitu mengharap pahala dari Allah azawazal, Allah berfirman :
وَاَتِمُّوا الۡحَجَّ وَالۡعُمۡرَةَ لِلّٰهِؕ

“Dan hendaklah kalian menyempurnakan Haji dan Umrah karena Allah” (Q.S. Al Baqoroh : 196)

Dan di dalam hadits kudsi Allah subhanahu wataala berkata :
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكََاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أََشْرَكَ فِيْهِ غَيْرَهُ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

“Aku adalah zat yang paling tidak butuh dengan sekutu, barang siapa mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku di dalam amalan tersebut, maka aku tinggalkan dia dan sekutunya” (H.R. Muslim)

Maksud Allah meningkalkan dia dan sekutunya adalah Allah tidak memberikan pahala kepadanya. Oleh karena itu seorang calon jamaah haji hendaknya memohon kepada Allah supaya dimudahkan untuk ikhlas di dalam beramal, menjauhi riya ingin dipuji, dan sum’ah ingin didengar, atau ingin lebih dihormati oleh masyarakatnya atau ingin dipanggil pak Haji dan bu Haji karena ini semua bisa menjadi sebab ketidak mabruran haji seseorang.
2. Mengikuti Sunnah Rasulullah salallahu alaihi wasalam di dalam ibadah hajinyaRasulullah salallahu alaihi wasalam bersabda :
لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ

“Hendaklah kalian mengambil dariku manasik kalian karena sesungguhnya aku tidak tahu mungkin aku tidak haji lagi setelah hajiku ini” (H.R. Muslim)

Oleh karena itu, hendaklah seorang calon jemaah haji bersungguh-sungguh didalam mempelajari tata cara haji Nabi salallahu ‘alaihi wasalam yang berdasarkan dalil yang sohih dan pemahaman yang benar dan mengamalkannya supaya mendapatkan Haji yang mabrur
3. Tidak Melakukan Kemaksiatan dan PelanggaranNabi salallahu ‘alaihi wasalam bersabda :
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa yang berhaji karena Allah kemudian dia tidak melakukan rofas, dan tidak melakukan kefasikan maka dia akan kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya” (H.R. Al Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan rofas disini adalah Jima’ yaitu mendatangi istri atau pembukaan dari jima’ ketika dalam keadaan ihram. Dan yang dimaksud dengan kefasikan adalah kemaksiatan. Oleh karenanya, seorang jamaah haji hendaknya menjaga hati, lisan, dan anggota badannya dari perbuatan maksiat, takut kepada Allah dimanapun dia berada, dan apabila dia melakukan kemaksiatan maka hendaknya bersegera bertaubat kepada Allah dengan Tobat yang nasuha dan menjaga larangan-larangan ketika ihram.
4. Berakhlak yang Baik kepada Orang Laindiantaranya memberi makan kepada orang lain, menyebarkan salam, memperbaiki tutur katanya, dan lain-lain
Nabi salallahu ‘alaihi wasalam bersabda ketika ditanya oleh para sahabat tentang haji yang mabrur,
 إطعام الطعام وإفشاء السلام “Memberi makan dan menyebarkan salam”
di dalam riwayat yang lain, beliau mengatakan ...........................إطعام الطعام و “Memberi makan dan ucapan yang baik” (H.R. Ahmad di dalam Musnadnya dan Alhakim di dalam Almustadrok, dan dihasankan oleh syeck Al Albani rohimahullah)
5. Menggunakan Harta yang HalalWajib bagi seorang muslim menggunakan harta yang halal supaya hajinya menjadi haji yang mabrur. Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam bersabda
أَيُّهَا النَّاسُ ؛ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Wahai manusia sesungguhnya Allah itu maha baik tidak menerima kecuali yang baik” (H.R. Muslim)

6. Memperbanyak mengingat Allah dalam rangkaian Ibadah Haji nyaHendaknya seorang jamaah haji mengisi waktunya dengan memperbanyak dzikrullah, yaitu mengingat Allah dengan hati dan lisannya, mengingat keagungannya, keesaannya, kekuasaannya, dan tidak menyia-nyiakan masa ibadah haji yang sebentar ini dengan pekerjaan yang sia-sia dan tidak bermanfaat.
HSI - S1 - Fiqih Manasik Haji (Halaqah 3) - Pengertian, Ciri, Keutamaan Haji Mabrur Dan Cara Mendapatkannya HSI - S1 - Fiqih Manasik Haji (Halaqah 3) - Pengertian, Ciri, Keutamaan Haji Mabrur Dan Cara Mendapatkannya Reviewed by Lorine Wyman on January 15, 2020 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.